Вход на сайт

Просмотр новости

Найдите то, что Вас интересует

Dari infrastruktur Hingga Keahlian: Kemitraan RI-Tiongkok yang Terus Berkembang dan Diperkaya

Дата публикации: 19-10-2026 01:05:00

REPUBLIKA.CO.ID -- Bagi banyak orang Indonesia maupun pengunjung asal Tiongkok, Bali lebih dikenal sebagai destinasi liburan ikonik di Indonesia—sebuah pulau yang sangat indah dengan deretan resor tepi pantai. Namun, di...

Основное содержимое страницы с новостью.

wang-wenwen-jurnalis-global-times_261019211552-160.jpg

Oleh: Wang Wenwen, Penulis adalah direktur Departemen Opini di Global Times, sebuah surat kabar berbahasa Inggris terkemuka di Tiongkok. wangwenwen@globaltimes.com.cn

REPUBLIKA.CO.ID -- Bagi banyak orang Indonesia maupun pengunjung asal Tiongkok, Bali lebih dikenal sebagai destinasi liburan ikonik di Indonesia—sebuah pulau yang sangat indah dengan deretan resor tepi pantai. Namun, di luar pusat-pusat pariwisata tersebut, terdapat kisah penting lain yang tengah berlangsung. Di Kawasan Ekonomi Khusus Kura-Kura, yang jauh dari resor-resor tepi pantai, para pembuat kebijakan Indonesia berkumpul untuk mendiskusikan cara membangun ekonomi berbasis pengetahuan bagi 288 juta penduduk Indonesia.

Awal bulan ini, dalam sebuah forum yang diselenggarakan di Kawasan Ekonomi Khusus Kura-Kura Bali, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, Brian Yuliarto, mendorong kolaborasi yang lebih erat antara universitas, lembaga penelitian, serta industri di Indonesia dengan pihak Tiongkok—melalui Tsinghua University, salah satu universitas terkemuka di Tiongkok. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat inovasi dan menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Indonesia, Antara.

Hal ini bukanlah arah baru bagi Indonesia. Pada kesempatan lain, yakni di sela-sela acara 'Indonesia-China Education-Industry Collaboration Summit 2026' yang digelar di Jakarta pada bulan September, wakil Menteri Yuliarto, Stella Christie, menyampaikan kepada media Tiongkok, “Indonesia perlu belajar dari Tiongkok dan mengubah model pembangunan nasionalnya—dari yang selama ini bergantung pada eksploitasi sumber daya alam, beralih menjadi model yang digerakkan oleh inovasi teknologi dan tenaga kerja yang sangat terampil. Indonesia dan Tiongkok memiliki prospek kerja sama yang luas di bidang ini.”

Dorongan untuk memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan sektor teknologi berakar pada realitas ekonomi Indonesia yang telah berlangsung lama. Selama berdekade-dekade, Indonesia mengekspor komoditas mentah—seperti batu bara termal, nikel, dan minyak kelapa sawit—sembari mengimpor barang-barang manufaktur jadi. Model ini memang memicu ekspansi ekonomi, namun tidak banyak berkontribusi dalam membangun kapasitas pengetahuan domestik yang berkelanjutan. Urgensi untuk mengatasi kesenjangan ini kian mendesak di tengah perubahan besar dalam ekonomi global, di mana teknologi telah beralih dari sekadar fungsi pendukung menjadi mesin utama kemajuan suatu bangsa. Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyatakan bahwa penguasaan sains dan teknologi merupakan kunci bagi kemajuan bangsa mana pun, yang pada gilirannya menuntut ketersediaan sumber daya manusia berkualitas tinggi.

Dalam upaya Indonesia mencari mitra untuk mendukung transisi ini, Tiongkok muncul sebagai rujukan yang wajar, mengingat negara tersebut telah melalui transformasi serupa dalam beberapa dekade terakhir. Tiongkok telah membangun ekosistem yang kuat, yang terdiri dari berbagai universitas dan lembaga penelitian terkemuka—sebuah hasil dari investasi berkelanjutan selama bertahun-tahun dalam pendidikan tinggi, fasilitas penelitian, serta hubungan praktis antara dunia akademis dan industri.

Hal yang membuat kerja sama ini istimewa bukan sekadar akses terhadap teknologi. Tiongkok telah mengintegrasikan sektor industri, akademisi, dan penelitian ke dalam praktik pembangunannya, alih-alih hanya menjadikannya sebagai slogan semata. Menteri Yuliarto mencontohkan Southeast Asia Center milik Universitas Tsinghua di Bali, yang berfungsi sebagai wadah bagi pertukaran akademik, pengembangan talenta, serta kerja sama antara Universitas Tsinghua dengan Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Wakil Menteri Christie menyebutkan kemitraan antara Politeknik Negeri Jakarta dan Guangxi LiuGong Group: perusahaan-perusahaan Tiongkok yang berinvestasi di Indonesia membutuhkan tenaga kerja lokal yang terampil, sementara politeknik di Indonesia memerlukan kurikulum yang dapat mengantarkan lulusannya pada pekerjaan nyata.

Penyelarasan ini sejalan dengan prioritas Indonesia sendiri. Hal ini mencerminkan model kerja sama pembangunan yang memandang talenta, teknologi, dan produksi sebagai bagian-bagian yang saling terhubung dalam satu sistem, alih-alih sebagai sektor-sektor yang terpisah. Dari sudut pandang Indonesia, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Yuliarto, tujuannya sederhana: Untuk “mendekatkan hasil penelitian dengan kebutuhan praktis” serta “membekali generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan.” Tiongkok memiliki pengalaman praktis selama empat dekade dalam mengembangkan model ini—sebuah keahlian yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh Indonesia.

Fokus yang kian besar pada sains dan inovasi menandai evolusi menarik dalam hubungan Indonesia-Tiongkok. Satu dekade lalu, kemitraan bilateral kedua negara lebih banyak dikaitkan dengan proyek-proyek infrastruktur berskala besar, seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung, kawasan industri, serta pabrik pengolahan (smelter) nikel. Proyek-proyek tersebut tetaplah penting; nilai perdagangan bilateral mencapai 167,4 miliar dolar AS pada tahun 2025, dan Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut.

Meski demikian, terdapat perbedaan yang jelas. Proyek infrastruktur dapat dibangun lalu diserahterimakan, sedangkan kolaborasi di bidang sains dan inovasi bekerja dengan cara yang berbeda. Hal ini mencakup pembukaan ruang penelitian, laboratorium, dan metodologi inovasi agar dapat dipelajari serta diadaptasi oleh para peneliti Indonesia. Seiring berjalannya waktu, persaingan yang sehat bahkan mungkin muncul di sektor-sektor tertentu. Kesiapan Tiongkok untuk terlibat dalam pertukaran pengetahuan semacam ini menunjukkan kemitraan yang dibangun atas dasar peningkatan kapasitas bersama, bukan sekadar keuntungan sepihak.

Kolaborasi ini membawa implikasi yang lebih luas. Bagi Indonesia, hal ini membuka jalan menuju otonomi ekonomi yang lebih besar—otonomi yang berakar pada kemampuan mandiri, bukan sekadar teknologi yang dipinjam atau dibeli. Bagi Tiongkok, ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bagaimana sebuah negara besar dapat berbagi keahlian pembangunan dengan mitra-mitranya. Pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan melalui riset bersama, setelah mengakar secara lokal, akan dapat terus bermanfaat bagi Indonesia selama beberapa generasi. 

Схожие новости

#Наименование новостиТональностьИнформативностьДата публикации
1Bali Hotels Association says Australian media’s damning report about Bali is ‘far from the truth’011.516-11-2020
2На Бали резко выросло число иностранцев с симптомами, как при гонконгском гриппе0502-07-2026
3"Известия": Россия и Индонезия обсуждают запуск прямых рейсов0017-05-2023
4Bali visa crackdown sees 342 deported in 6 months012.7417-08-2026
5Блогеры из Китая оценили туристические объекты Екатеринбурга08.7105-08-2026
6СМИ: на Бали почти 2 тысячи иностранцев пытаются продлить визы в экстренном порядке0024-03-2020
7Решетников отметил дисбаланс в туризме между РФ и КНР06.6921-10-2026
8АТОР: Китай не станет "второй Турцией" для российских туристов0026-11-2025
9Bali to reopen to foreign tourists early next year, says official09.7628-11-2020

Классификация: . Схожих патентов: 0. Схожих новостей: 9. Тональность: 0. Информативность: 11.4. Источник: www.republika.co.id.